Sungguh kelu bibirku, saat kau menyapaku,
tatapanmu yang mendamaikan menentramkan jiwa tak bertujuan.
Hatiku pilu, saat ku tahu, semua akan cepat berlalu bagimu,
tapi bagiku, semua indah dalam hatiku.
Sembilu semakin menelusuk jiwaku, ketika ku hanya mampu menatapmu sendu.
sekedar bertukar sapa pun ku tak mampu. menatapmu dari jauh itu cukup bagiku,
meski ku tahu, hatiku takkan mampu.
Inginku menyampaikan, tapi semua tak beralasan,
kau keluarkan aku dari labirin jebakan,
entah memang Tuhan inginkan, atau hanya kebetulan,
satu hal, semua indah tuk bertahan.
Semua singkat,
semua hanya sesaat, rasa itu hadir di tengah waktu yang singkat.
rasa itu sempurna saat kau siap berangkat,
Tuhan mengapa semua begitu singkat?
Tuhan, sampaikan pesan ini padanya,
lidahku kelu, bibirku lesu tuk ungkap semua,
sekedar salam perpisahan pun tak sanggup terlontarkan.
Sungguh, ku hanya mampu menatap sendu,
dirinya yang akan ku rindu,
labirin ini, memang mengandung makna,
tapi aku, terjebak, dan tak bisa keluar,
dan apa yg ku perbuat?
malah membuat tembok pertahanan yg kusebut 'ketegaran'?
'ketegaran' yg dibuat2? hingga semua org percaya, bahwa aku telah menyelesaikan labirin ini?
dasar pembohong,
bodoh!
lihat? tembok pertahanan itu tak cukup kuat, hancur berkeping2, sia-sia,
lantas sekarang apa yg ku perbuat?
menangis sendu menatap langit malam berbintang,
ditengah 'labirin rumit', jatuh terduduk,
BODOH! dasar BODOH!
air mataku hrs terjatuh lagi krn labirin sialan itu?
bukan, nanti dulu,,
aku hanya menangis, bkn menangisi dia yg tlah pergi, bkn krn dia telah bersamanya, bkn krn aku merindukannya,
tapi aku menangis, begitu menyesal,
mengapa aku tak prnh bisa menyelesaikan labirin ini secara utuh?
mengapa aku tak prnh bisa membangun 'kamar pemahaman baru' agar hatiku bisa berdamai dgn 'nya'?
mengapa aku begitu bodoh, terjebak diperasaan yg salah, dan tak prnh bisa keluar darinya?
aku jatuh terduduk, menengadah ke langit,
membiarkan wajahku basah tersiram air hujan yang begitu deras,
agar tak ada yg tahu, aku menangis lagi, lagi, dan lagi,
biarlah air mataku hanyut bersama tetesan hujan malam ini..
bersama luka lama yg tergores kembali,
Tuhan, kini aku akui,
rasa ini msh tersimpan rapi, maafkan atas kebodohanku,,
Maaf,
Lihat langit senja begitu indah, semburat orange di ufuk
barat, bersiap tenggelam bersama cakrawala. Indah menenangkan hati siapa saja
yang melihatnya. Angin sepoi-sepoi melambai-lambaikan rambutku, heyy adakah kau
merindukanku ? ya, semua orang tahu, jawabannya “tidak!”
Semua masih tetap
seperti dulu, ‘semua’…
Bukan berharap bukan menanti, hanya melepaskan hanya
berdamai. Ingin ku ajak bicara hatiku, hanya berdua dengannya, melepas semua
yang membelenggu. Sendiri, hanya aku dan hatiku (tentu dengan Tuhanku).
Bodohnya aku masih tetap begini, bodohnya aku yang belum
mampu melepaskan.
Yang pertama, membuat luka
begitu berbekas…
Kian hari, luka ini semakin berbekas, tak kusangka setelah
merenung ku sadar, ku hanya persinggahan buatmu, kau hanya ‘numpang lewat’ di
hatiku, kau hanya mempermainkan perasaanku, kau hanya.. kau hanya.. kau hanya…
*lupakan*
Karena kau yang
pertama, membuat ini smakin berbekas..
Sepintas, ku merasa menyesal mengapa aku harus bertemu
denganmu, mengenal dirimu ? kenapa kau harus masuk di dalam kehidupanku ?
Aku tersiksa karena
rasa yang belum bisa ku lepaskan..
Haruskah ku ubah segalanya menjadi kebencian agar ku dapat
melepas segalanya ? berdamai dengan semuanya ?
Aku tersiksa karena
rasa yang belum bisa ku lepaskan..
Tetap, sudut hatiku tetap, Astagfirullah..
Aku tersiksa karena
rasa yang belum bisa ku lepaskan..
Tapi, ku ditakdirkan bertemu denganmu, dan membuat segala
luka ini… menjadikanku lebih tegar dalam menjalani sebuah perasaan. Namun…
Aku tersiksa karena
rasa yang belum bisa ku lepaskan..
Betapa hancur dan sakit hatiku, ketika ku harus berkata
mengingkari semua perasaanku, betapa hancur hatiku ketika membohongi semua.
Betapa terlukanya aku ketika ku harus bertindak mengingkari perasaanku. Namun
itu tetap yang terbaik yang harus aku ambil.
Aku tersiksa karena
rasa yang belum bisa ku lepaskan..
Heyy, kau tak kesepian lagi bukan ? ada seseorang yang kau
kejar, dan ada seseorang yang mulai menemani, :D ku harap kau bahagia,
Jangan ulangi yang
pernah kau lakukan…
Jangan sentuh
hidupnya, jika kau hanya membuat luka dihatinya, luka diatas ketulusannya,
apa?
aku sudah lelah berbohong, berlari, menepis segala yang kurasa,
tapi apa, aku pun punya batas kemampuan, aku tak sanggup berpura-pura lagi,
aku tak sanggup berbohong lagi pada diriku sendiri,
aku tak sanggup, aku tak kuat.
apa? dimana?
aku sendiri, aku telah terbiasa sendiri, tapi bukan itu yang aku risaukan
bukan itu yang aku tangiskan,
tapi dirimu, dirimu yang takpernah lenyap dalam pikirku,
hatiku
tak pernah kandas dari berbagai cerita yang aku rangkai,
tak pernah padam dari segala semangat yang membara,
tapi apa, apa?
kau memilih dia yang lebih sempurna,
kau memilih dia yang sebagai yang terindah,
tahukah kau, kau terindah bagiku,
kau masih tetap yang terindah, masih tetap seperti dulu,
kau tak pernah tahu, karena aku menjaga agar kau tak tahu,
kau tak tahu, karena kau tak usah tau,
kalau pun kau tahu, memangnya kau mau apa?
apa?
apa?
aku lelah berbohong, kini aku jujur, aku masih seperti dulu,
masih tetap seperti dulu, masih seperti dulu,
suatu hari nanti, ketika aku temui kau sudah bahagia,
aku ingin kau tak pernah melupakanku,
karena aku takkan pernah melupakanmu, kau yang tlah hiasi hidupku hingga kini
kau yang terindah,
tapi kau tak pernah menyadarinya, tak pernah, sedikit pun tak pernah,
aku merindukanmu,
aku lelah berbohong, aku lelah berlari, aku lelah menepis segala rasa,
kini aku jujur pada hatiku sendiri,
aku masih seperti dulu, engkau masih yang terindah,
masih tetap seperti dulu, seperti dulu,
kini ku merindukanmu..
kau dimana?
Setiap kali perasaan itu datang,
siapa yang mampu menebak hati seseorang?
begitu pula dengannya, tak ada yang tahu, tak ada apapun,
sunyi, senyap, hanya suara langkah kaki yang tak berbekas,
hanya menyisakan setiap deru nafas yang tersendat,
sesak,
penat...
siapa yang tahu?
mengapa...
semakin kesunyian itu hadir, semakin nyata bayangan itu ada.
dekat menghampiri, namun tak berbekas sama sekali,
nyata dalam bayangan, hilang dalam realita..
menggantungkan sejuta harapan,
dan tak jarang, hilang terhempas seketika,
siapa yang tahu?
mengapa...
senyum itu semakin tak terlupakan,
terlukis indah, hangat menyapa,
memendam kerinduan yang mendalam.
mengisi setiap hari-hari,
dan harus lenyap ketika yang lain pergi,
hanya sendiri,
namun tak sesungguhnya sendiri..
sungguh,
rahasiaNya begitu indah,
mengalahkan apapun yang ada,
namun, siapa yang mampu? membohongi ini semua?
kejujuran hati tetap yang terpenting..
bukankah semua ini anugerahNya?? bukankah ini fitrahNya??
jalani sesuai apa yang diperintahkanNya,
agar kesucian dan ketulusannya tetap terjaga,
dan tak salah arah,
hingga waktu yang tunjukkan 'keindahan' itu sesungguhnya..
tetap terjaga, dan kendalikan.
karena sungguh tak ada yang sejati, kecuali diriNya..
inilah hidup,
semua jawaban atas 'ketidaktahuan' itu milikNya,
dengan rahasiaNya yang selalu indah,
karena sesungguhnya, takkan ada yang mampu,
mengetahui yang sesungguhnya tentang 'ini',
kecuali diriNya :)